• INI GAMBAR NORAH JONES
    Norah Jones adalah seorang musisi jazz yang sudah banyak mendapatkan Grammy Award

Jumat, 26 Agustus 2011

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H


Hari raya Idul Fitri atau Lebaran senantiasa dinanti oleh kaum muslimin di seantero dunia. Hari yang menandakan berakhirnya bulan penuh ibadah, penuh keberkahan dan ampunan dari Allah ini merupakan hari kebahagian. Anggota keluarga berkumpul, yang jauh berdatangan, handai taulan bersua, hadiah saling dibagikan, doa saling dipanjatkan dan ucapan salam dan selamat saling diberikan di hari yang dipenuhi gema takbir ini.


          Satukan tangan, satukan hati
          Itulah indahnya silaturahmi
          Di hari kemenangan kita padukan
          Keikhlasan untuk saling memaafkan
          Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H

                     Sajadah indah nan berseri,
                    Jadi hiasan di hari nan suci.
                    Sms tuan sudah kami terima tanda ingat khilaf dan dosa.
                    Taqobbalolluminna waminkum, mohon maaf lahir dan batin.

         Dalam fisik nan layu,
         Hendaknya fikir tetap jernih.
         Dalam fitri yang bertalu,
         Hendaknya zikir dan silaturahmi tetap tercermin.
         Selamat Idul Fitri 1432 H

                   Bunga melati bungan kasturi,
                   Mekar indah dalam jembangan.
                   Sucikan hati di hari fitri,
                   Salah dan dosa mohon dimaafkan.
                   Selamat hari raya idul fitri 1432 H.
                   Mohon maaf lahir dan bathin.

        Gemalah takbir di subuh sepi,
        Mengagungkan suci nama Mu ya Illahi.
        Dengan menyusun 10 jari
        Kami juga mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1432 H.
        Mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dan alfa.

                Pergi ke Gombong makan kedongdong
                Di Tasikmalaya beli liontin.
                Maafkan daku yang sering khilaf dan sombong.
                Maafkan lahir dan batin.


      







Minggu, 07 Agustus 2011

TNI masuk dalam peringkat ke-18 kekuatan militer dunia

Tentara Nasional Indonesia masuk dalam peringkat ke-18 kekuatan militer dunia versi Global Firepower yang menggunakan 45 variabel perhitungan. Urutan 10 besar kekuatan militer dunia, menurut lembaga Global Firepower, ditempati Amerika Serikat, Rusia, China, India, Inggris, Turki, Korea Selatan, Perancis, Jepang, dan Israel.Di tingkat ASEAN, TNI menempati posisi teratas, diikuti Thailand (ke-19), Filipina (ke-23), Malaysia (ke-27), dan Singapura (ke-41). Italia menempati urutan ke-17, Taiwan berada pada urutan ke-14, dan Australia pada urutan ke-24.
Pengamat militer Andi Widjayanto yang dihubungi di Jakarta, Jumat (5/8/2011), mengatakan, penilaian tersebut lebih banyak didasarkan pada gelar statis dari kuantitas alat yang dimiliki. Namun, belum tentu semua siap atau dapat digunakan sewaktu-waktu.
"Kalau memperhitungkan gelar dinamis, yakni kesiapan tempur efektif saat ini, tentu angkanya tidak setinggi itu. Gelar dinamis adalah kekuatan nyata yang dapat langsung digelar untuk penindakan," ujar Andi.
Direktur Institute for Defense Security and Peace Studies Mufti Makarim, yang dihubungi terpisah, mengatakan, penilaian tersebut dilakukan dengan menghimpun semua komposisi matra darat, laut, dan udara.
     "Tetapi, jika dilihat dari luas wilayah dengan dua pertiga adalah lautan, komposisi kemampuan teknis TNI seharusnya setara dengan militer Australia. Kebutuhan ke depan adalah penyesuaian pengembangan postur dan kebutuhan strategis pertahanan yang dilakukan secara sistematis bertahap sesuai dengan anggaran dan prioritas," paparnya.
Dia mengingatkan TNI agar fokus dalam mengembangkan postur kekuatan dan penyesuaian mindset tentara di dalam negara demokratis murni untuk kebutuhan pertahanan.
Terkait dengan pengembangan kekuatan maritim, Andi mengatakan, pada tahap pembangunan jangka panjang pertama hingga 2024, TNI belum mengembangkan kekuatan tempur samudra. (ONG)

Sumber :
Kompas Cetak

Senin, 11 Juli 2011

Tabel angka kredit untuk impasing guru non pns

Peraturan Pemerintah  Nomor  41  Tahun  2009  tentang  Tunjangan  Profesi  Guru  dan Dosen,  Tunjangan  Khusus  Guru  dan  Dosen,  serta  Tunjangan  Kehormatan Profesor,  mengamanatkan bahwa guru yang telah memiliki sertifikat pendidik, baik yang  berstatus pegawai negeri sipil maupun yang bukan pegawai negeri sipil  dan  memenuhi  persyaratan  sesuai  dengan  ketentuan  peraturan perundang-undangan  diberi  tunjangan  profesi  dan  tunjangan  khusus  setiap bulan. Tunjangan profesi dan tunjangan khusus bagi guru pegawai negeri sipil yang menduduki  jabatan  fungsional  guru  diberikan  sebesar 1 (satu)  kali  gaji pokok  pegawai  negeri  sipil  yang  bersangkutan  sesuai  dengan  ketentuan perundang-undangan  setiap  bulan. Sedang  bagi  guru  bukan  pegawai  negeri sipil,  tunjangan  profesi  dan  tunjangan  khusus  diberikan  sesuai  dengan kesetaraan  tingkat,  masa  kerja,  dan  kualifikasi  akademik  yang  berlaku  bagi guru pegawai negeri sipil.
Mengingat  kebijakan  pemberian  tunjangan  profesi  dan  tunjangan  khusus tersebut berlaku  bagi semua guru  yang memenuhi syarat, maka untuk  dapat memberikan  tunjangan  profesi  dan  tunjangan  khusus  kepada  Guru  Bukan Pegawai  Negeri  Sipil  (GBPNS)  yang  telah  memenuhi  persyaratan sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku, perlu dilakukan penyetaraan atau inpassing penetapan jabatan fungsional dan angka kreditnya bagi GBPNS  tersebut. Atas dasar  itu, ditetapkan Peraturan Menteri  Pendidikan    Nasional  (Permendiknas)  Republik  Indonesia Nomor  22  Tahun 2010  sebagai  perubahan    terhadap  Permendiknas    Nomor  47  Tahun  2007 tentang  Penetapan  Inpassing  Jabatan  Fungsional  GBPNS  dan  Angka Kreditnya yang dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan Jabatan Fungsional GBPNS dan Angka Kreditnya.
Penetapan  jabatan  fungsional  GBPNS  dan  angka  kreditnya,  bukan  hanya untuk memberikan tunjangan profesi/khusus bagi mereka, namun dimaksudkan untuk  pembinaan  dan  perlindungan  serta  tertib  adminsitrasi  guru.  Jabatan fungsional  guru merupakan  jabatan  ahli.
Inpassing  Jabatan  Fungsional GBPNS  dan Angka Kreditnya  ditetapkan berdasarkan dua hal, yaitu kualifikasi akademik dan masa kerja.
Berikut tabel konversi nilai angka kredit jabatan fungsional GBPNS berdasarkan lampiran Pedoman Penetapan Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS.
1. Kualifikasi SMA/SPG/SGO/D1/PGSLP/DII/PGSLA/Setara
Masa Kerja (th)
Angka Kredit
Gol.
Jabatan
 0 <MK< 6 25 II a Guru Pratama
 6 <MK< 10 40 II b Guru Pratama Tk I
10 <MK< 14 60 II c Guru Muda
14 <MK< 18 80 II d Guru Muda Tk I
18 <MK< 22 100 III a Guru Madya
22 <MK< 26 150 III b Guru Madya Tk I
26 <MK< 30 200 III c Guru Dewasa
30 <MK< 34 300 III d Guru Dewasa Tk I
MK> 34 400 IV a Guru Pembina
2. Kualifikasi Sarjana Muda/D3/Setara
Masa Kerja (th)
Angka Kredit
Gol.
Jabatan
 0 <MK< 6 40 II b Guru Pratama Tk I
 6 <MK< 10 60 II c Guru Muda
10 <MK< 14 80 II d Guru Muda Tk I
14 <MK< 18 100 III a Guru Madya
18 <MK< 22 150 III b Guru Madya Tk I
22 <MK< 26 200 III c Guru Dewasa
26 <MK< 30 300 III d Guru Dewasa Tk I
30 <MK< 34 400 IV a Guru Pembina
MK> 34 -

3. Sarjana/D4
Masa Kerja (th)
Angka Kredit
Gol.
Jabatan
 0 <MK< 6 100 III a Guru Madya
 6 <MK< 10 150 III b Guru Madya Tk I
10 <MK< 14 200 III c Guru Dewasa
14 <MK< 18 300 III d Guru Dewasa Tk I
18 <MK< 22 400 IV a Guru Pembina
4. Magister / S2
Masa Kerja (th)
Angka Kredit
Gol.
Jabatan
 0 <MK< 6 150 III b Guru Madya Tk I
 6 <MK< 10 200 III c Guru Dewasa
10 <MK< 14 300 III d Guru Dewasa Tk I
14 <MK< 18 400 IV a Guru Pembina
5. Doktor / S3
Masa Kerja (th)
Angka Kredit
Gol.
Jabatan
 0 <MK< 6 200 III c Guru Dewasa
 6 <MK< 10 300 III d Guru Dewasa Tk I
10 <MK< 14 400 IV a Guru Pembina
Buku Pedoman Penetapan Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS
Buku pedoman ini memuat panjang lebar tentang inpassing GBPNS mulai dari latar belakang, dasar hukum, tujuan, dan pengertian inpassing.
Pada bab pelaksanaan inpassing GBPNS, diuraikan tentang  persyaratan,  prosedur pengusulan, dasar dan tatacara penetapan, jenjang jabatan fungsional,  pejabat yang berwenang menetapkan.
Pada lampiran berisi tabel konversi nilai angka kredit, dan 11 contoh format surat antara lain surat kepala sekolah usul inpassing dan lampiran usulan kepala sekolah, serta contoh SK Kemendiknas tenmtang Inpassing GBPNS

IMPASSING GURU NON PNS


Inpassing  Guru  Bukan  Pegawai  Negeri  Sipil  adalah  proses penyesuaian kepangkatan Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dengan kepangkatan Guru Pegawai Negeri Sipil. Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil  dan  Angka  Kreditnya  ditetapkan  berdasarkan  dua hal, yaitu
a.  Kualifikasi akademik
b.  Masa  kerja,  dihitung mulai  dari  pengangkatan  atau penugasan sebagai Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil pada satuan pendidikan.
  1. Persyaratan
    Penetapan jabatan fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan angka kreditnya, bukan sebatas untuk memberikan tunjangan profesi bagi mereka, namun lebih jauh adalah untuk menetapkan kesetaraan jabatan, pangkat/golongan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku sekailgus demi tertib administrasi Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil. Atas dasar itu, Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil yang dapat ditetapkan Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya adalah:
    1. Guru tetap yang mengajar pada satuan pendidikan, TK/TKLB/RA/BA atau yang sederajat; SD/SDLB/MI atau yang sederajat; SMP/SMPLB/MTs atau yang sederajat; dan SMA/SMK/SMALB/MA/MAK atau yang sederajat, yang telah memiliki izin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Dinas Pendidikan Provinsi setempat. Guru dimaksud adalah guru yang diangkat oleh pemerintah, pemerintah daerah dan yayasan/masyarakat penyelenggara pendidikan.
    2. Kualifikasi akademik minimal S-1/D-IV
    3. Masa kerja sebagai guru sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun berturut-turut pada satmingkal yang sama.
    4. Usia setinggi-tingginya 59 tahun pada saat diusulkan.
    5. Telah memiliki NUPTK yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.
    6. Melampirkan syarat-syarat administratif :
      1. Salinan/fotokopi sah surat keputusan tentang pengangkatan atau penugasan sebagai guru tetap yang ditandatangani oleh yayasan/penyelenggara satuan pendidikan yang mempunyai izin operasional tempat satuan administrasi pangkal (satmingkal) guru yang bersangkutan.
      2. Salinan atau fotokopi ijazah terakhir yang disahkan oleh pejabat yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku (Perguruan Tinggi/Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang menerbitkan ijasah dimaksud).
      3. Surat keterangan asli dari kepala sekolah/madrasah bahwa yang bersangkutan melakukan kegiatan proses pembelajaran/pembimbingan pada satmingkal guru yang bersangkutan.
  2. Prosedur Pengusulan
    Prosedur pengusulan Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan Angka Kreditnya adalah sebagai berikut:
    1. Kepala sekolah/madrasah jenjang TK/RA/BA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA/MAK atau yang sederajat, meneliti kelengkapan administratif dan keabsahan bukti fisik yang diusulkan oleh Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan atas persetujuan yayasan/penyelenggara pendidikan, dan mengusulkannya ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dengan menggunakan Format 1 (Lampiran 1).
    2. Kepala sekolah/madrasah jenjang TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMALB atau yang sederajat meneliti kelengkapan administratif dan keabsahan bukti fisik yang diusulkan oleh Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil atas persetujuan yayasan/penyelenggara pendidikan, dan mengusulkannya ke Dinas Pendidikan Provinsi, dengan menggunakan Format 1 (Lampiran 1).
    3. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota meneliti kelengkapan administratif dan keabsahan bukti fisik yang diusulkan oleh kepala sekolah seperti tersebut pada butir 1 (satu) dan mengusulkannya kepada Menteri Pendidikan Nasional melalui Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan u.b. Direktur Profesi Pendidik dengan menggunakan Format 2 (Lampiran 2).
    4. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi meneliti kelengkapan administratif dan keabsahan bukti fisik yang diusulkan oleh kepala sekolah seperti tersebut pada butir 2 (dua) dan mengusulkannya kepada Menteri Pendidikan Nasional melalui Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan u.b. Direktur Profesi Pendidik dengan menggunakan Format 2 (Lampiran 2).
    5. Direktorat Profesi Pendidik meneliti dan menilai kelengkapan administrasi dan keabsahan bukti fisik yang diusulkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan/atau Dinas Pendidikan Provinsi. Selanjutnya Direktorat Profesi berdasarkan hasil penilaian mengusulkan ke Menteri Pendidikan Nasional melalui Kepala Biro Kepegawaian untuk ditetapkan Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan Angka Kreditnya, dengan menggunakan Format 3 (Lampiran 3).
    6. Kepala Biro Kepegawaian meneliti hasil penilaian kelengkapan administrasi dan keabsahan bukti fisik usulan penetapan inpassing dari Direktur Profesi Pendidik untuk ditetapkan Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan Angka Kreditnya, dengan menggunakan Format 4 (Lampiran 4).
Contoh Format Usulan
Format usulan mulai dari tingkat sekolah (format 1) dan format lainnya dapat dilihat dalam buku Pedoman Penetapan Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS yang bisa diunduh di bawah.
Batas Penetapan SK Inpassing 30 Desember 2011
Sesuai Permendiknas nomor 22/2010, batas akhir penetapan SK Inpassing adalah 30 Desember 2011. Oleh karena itu, bagi yang belum pernah mengusulkan agar segera mengusulkan dengan syarat dan prosedur seperti penjelasan di atas.
C. Alamat Pengiriman
Ditjen PMPTK
U,p. Direktur Profesi Pendidik
Kompleks Depdiknas Gd. D Lt. 14
Jalan Pintu 1 Senayan Jakarta Pusat
Tlp/fax: 021-57974124/57974126
Tunjangan Profesi bagi Guru Bukan PNS Rp1.500.000,00/Bulan

Guru Bukan PNS (GBNS) yang telah lulus sertifikasi dan memiliki sertifikat pnedidik profesional berhak atas tunjangan profesi setiap bulan. Berdasarkan Permendiknas 72/2008 tentang Tunjangan Profesi GTT Bukan PNS, dalam pasal 2 disebutkan, besar tunjangan GTT yang belum memiliki jabatan fungsional guru adalh Rp1.500.000 setiap bulan sampai dengan guru yang bersangkutan memiliki jabatan fungsional guru.
Yang dimaksud “jabatan fungsional guru” adalah telah memiliki SK Inpassing. Bagi GTT yang telah memiliki sertifikat pendidikan dan memiliki SK Inpassing maka besarnya tunjangan setiap bulan adalah sebesar gaji pokok goloNgan yang tertulis pada SK Inpassing.

Rabu, 29 Juni 2011

Tidak Cukup hanya dengan Sisa Waktu

 Dari kang Robi :


Entah untuk yang ke berapa kali pagi itu shalat subuh si Fulan tertinggal untuk berjamaah. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi dan pada jam segitu masjid sudah barang tentu kosong dari jemaah. Kemudian dengan mata yang masih sepet Fulan beranjak untuk mengambil air wudhu dan dilanjutkan dengan shalat subuh secara munfarid. Saking seringnya tidak ada perasaan sesal yang singgah di benak Fulan ini. Seolah hal yang wajar apabila shalat subuh dikerjakan pukul 05.30 pagi.

Otomatis selepas shalat subuh sendirian tidak bisa melakukan dzikir pagi karena harus segera merapikan diri untuk berangkat kerja, apalagi baca qur'an, satu ayat pun tidak akan keburu.
Tapi entah kenapa untuk masalah pekerjaan Fulan selalu berusaha untuk tepat waktu masuk kantor. Setiap pergi ke kantor Fulan selalu berusaha untuk tampil rapi dan wangi dan hal ini sangat bertolak belakang dengan aktivitasnya ketika bangun tidur. Aktivitas shalat subuh Fulan cukup dengan menggunakan pakaian tidur, tanpa gosok gigi, apalagi wangi-wangian. Intinya yang penting kewajiban sudah gugur.

Sebagai seorang karyawan Fulan selalu mendedikasikan dan mengerjakan segala tanggung jawabknya dengan sungguh-sungguh dan senang hati. Apabila terjadi suatu kesalahan, Fulan akan dengan segera menelusuri akar penyebab masalahnya dan mencari solusi terbaik sehingga masalah ini tidak muncul lagi.


Pada jam istirahat, selepas makan siang, biasanya Fulan asyik ngobrol dengan teman-teman kerjanya. Biasanya Fulan shalat Dzuhur lima menit menjelang jam istirahat berakhir. Walhasil shalat dzuhur yang dikerjakannya sangat minim waktunya. Dari mulai wudhu pun terlihat terburu-buru. Maka selepas salam Fulan langsung kembali bekerja. Tidak ada dzikir ataupun shalat ba'diyah dzuhur.
Gambaran di atas bisa jadi merupakan refleksi dari rutinitas harian kita. Di sadari atau tidak terkadang kita tidak adil dalam menyikapi urusan dunia dan akhirat. Meski kita sering mengatakan bahwa dalam hidup ini harus seimbang antara dunia dan akhirat kita. Tapi, tanyalah ke dalam lubuk hati ini, benarkah perkataan itu? Benarkah kita sudah memposisikan timbangan dunia dan timbangan akhirat pada posisi yang sama tinggi jika takarannya harus seimbang?
Dalam pekerjaan kita sering berusaha untuk datang tepat waktu. Jika sekali saja terlambat maka keesokan harinya akan bangun dan berangkat lebih awal agar tidak terlambat lagi. Tapi kita jarang sekali khawatir karena telah mengakhirkan shalat, bahkan kalau sedang asyik biasanya kita dengan tenang meninggalkan kewajiban tersebut tanpa ada sesal yang singgah di hati.

Kita selalu berpenampilan rapi, harum dan segar setiap pergi ke kantor. Namun dalam sujud kepada Alloh kita cukup memakai kaos oblong dan sarung seadanya.
Masih banyak hal-hal lain dimana kita tidak adil dalam menempatkan antara dunia dan akhirat. Padahal, seandainya kita mau sedikit mempelajari, apa yang kita lakukan dalam 24 jam bisa bernilai ibadah. Namun untuk mempelajarinya badan ini sudah terlampau letih oleh setumpuk pekerjaan. Saking letihnya kita sering ketiduran untuk melaksanakan shalat isya. Namun, meskipun badan ini letih terkadang kondisi badan bisa menjadi fit kembali ketika ada panggilan dari atasan meskipun itu tiba-tiba.
Begitu pun pada hari libur di akhir pekan. Dengan alasan istirahat kita menghabiskan waktu dengan tidur, nonton tv, shopping, ke bioskop, hang out, dll. Sangat jarang dari kita untuk meluangkan waktu sesaat untuk sekedar membaca satu ayat dari ribuan firman Alloh. Bahkan meskipun tidak bekerja kita masih saja tidak dapat melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Tetapi jika pacar meminta bertemu, kita akan dengan sigap memenuhi permintaannya itu tanpa pikir panjang dan tepat waktu.

Tapi tidak adakah waktu untuk sekedar bercakap-cakap dengan Alloh meski dengan shalat di awal waktu? Atau sekedar membaca satu ayat saja setiap minggunya?
Sebenarnya hukum untuk mendapatkan kebahagiaan dunia sama dengan kebahagiaan akhirat. Kita akan mendapatkan kemapanan hidup apabila memiliki bekal ilmu yang cukup dan bersungguh-sungguh bekerja. Semua itu kita lakukan dan jalani dengan kerelaan. Untuk mendapatkan akhirat pun demikian. Diperlukan ilmu yang cukup dan kesungguhan untuk mengamalkannya. Ilmu tersebut pun harus diusahakan dengan cara menuntut ilmu dan itu memerlukan waktu dan biaya. Namun kenapa kita pelit untuk segala hal yang dapat membuat kita lebih memahami ajaran islam. Membeli buku aqidah seharga lima puluh ribu akan terasa mahal apabila dibandingkan dengan jalan-jalan yang bisa menghabiskan uang sampai ratusan ribu rupiah.
Berhenti sejenak dan merenungi atas apa yang telah kita kerjakan mungkin salah satu sikap yang bijak. Mencoba berfikir atas semua aktivitas kita apakah sudah proporsional dan adilkah kebutuhan dunia dan akhirat kita tunaikan?

Akan terlalu berat mungkin apabila kita mengikuti Rasulullah dalam semua hal. Paling tidak ada proses untuk berkeinginan mengenal Alloh dalam ibadah-ibadah pokok dan melibatkan-Nya dalam seluruh aktivitas kita.

Setidaknya untuk tidak lupa mengucapkan basmalah dalam setiap memulai aktivitas sehingga akan bernilai kebaikan. Alloh pun tidak membebankan syariat-Nya melainkan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.
Shared by: Blog Kang Robby

Allah Maha Mengetahui..


Ilmu fisika, biologi, falak, dan kimia telah menunjukan kepada kita bahwa dunia diciptakan dengan aturan-aturan dan ukuran-ukuran yang rapi. Tidak ada tempat bagi sesuatu yang terjadi secara kebetulan, semua berjalan mengikuti hukum-hukum yang telah Allah ciptakan di alam semesta ini.

“… dan, Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS Al Furqaan:2)



“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS Al Qamar:49)

Dan, tentu saja Allah menciptakan semua ini bukan tanpa tujuan. Tidak mungkin tanpa tujuan. Pasti, akan selalu ada hikmah di balik semua penciptaan ini.Namun, keyakinan akan semua hikmah ini, bukan berarti kita akan mengetahuinya. Karena keterbatasan ilmu manusia, bisa saja hikmah-hikmah itu masih tersembunyi, tidak terungkap oleh pandangan manusia yang terbatas ini.

“… mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. ” (QS. An Nisaa’:19)

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah:216)

Dan, saya yakin bahwa keterbatasan ini pun memberikan hikmah yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Tidak semuanya harus ada jawaban, yang perlu kita yakini adalah semuanya demi kebaikan kita. Dalilnya sudah jelas dan sudah kita hafal bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kadang kita berusaha keras, namun hasil seolah tidak kunjung datang. Saya kata seolah sebab itu hanyalah pandangan kita yang terbatas. Strategi, taktik, dan rencana matang tidak selamanya akan menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita. Bisa jadi, Allah telah menyiapkan yang lain yang pastinya akan lebih baik dari itu.

“… Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” (QS Ath Thalaaq:1)

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (At Takwir:29)

Jika saya berikhtiar itu semata-mata karena memenuhi perintah Allah. Manusia hanya berusaha, sedangkan Allah yang menentukan akibat dan hasilnya. Dan saya merasa yakin bahwa akibat dan hasil yang dipilihkan Allah bagi saya adalah yang terbaik bagi saya.

Jika demikian, mengapa kita harus takut dan khawatir dalam menjalani hidup? Bukankah semuanya untuk kebaikan kita sendiri. Pahit mungkin terasa pahit yang kita alami. Kita tidak menyukai. Kita membencinya. Padahal boleh jadi itu yang terbaik bagi kita.

Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini. Yang sering mengeluh dengan pemberian-Mu. Yang sering lupa bahwa Engkau memberikan yang terbaik.

Mudah-mudahan, mulai detik ini saya merasa tentram terhadap rahmat Allah, keadilan-Nya, kebijaksanaan-Nya, dan ilmu-Nya. Hidup yang lebih tenang karena “melihat” peran Allah dalam setiap peristiwa dan setiap urusan. Hidup yang tenang, karena hidup dalam lindungan dan pemeliharaan Allah.

SUMBER: MOTIVASI ISLAMI

Saat Kenyataan Tak Seindah Impian

Banyak orang yang merasa frustasi karena kenyataan
mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka impian

Sebagai contoh, ada seorang anak yang ingin kuliah di Universitas A

tapi nyatanya biaya tidak mencukupi. atau otaknya yang nggak nyampai

Atau, mereka yg merantau ke kota besar, bermimpi ingin mendapatkan




pekerjaan berkelas nasional bahkan internasional, tapi yang didapatkan
hanyalah pekerjaan biasa-biasa saja & apa adanya.

Ada juga seorang pengusaha, yg mungkin mengharapkan
kenaikan profit 10 kali, malah mengalami kebangkrutan
Apa yang kita harapkan, kadang memang tidak sesuai dengan kenyataan.
Lalu apayang harus kita lakukan?

Ada juga yang mencoba melempar manggis,
manggis dilempar mangga yang tepar,
ada lagi juga yang melamar gadis,
gadis dilamar, janda didapat. (lho, didi kempot?)

Berikut adalah 3 langkah hebat atau tips yang bisa anda lakukan
saat mimpi tidak sesuai dengan kenyataan:

Langah 1. Bertindaklah selalu secara fleksibel dan dinamis

Jika kamu ingin menggapai kesuksesan,
maka yang diperlukan adalah *kesiapan*
untuk bisa bertindak secara fleksible dan dinamis terhadap setiap perubahan yang terjadi.

Analogi sederhana:

Saat ada badai atau angin topan yang besar,
tidak jarang kita melihat pohon2 besar tumbang!

Sebab pohon2 itu tidak kuat menahan beban yang diterima.
Namun coba lihatlah bambu,! Karena batangnya yang lentur
maka bambu bisa fleksibel bergerak ke segala arah,
bergoyang saja saat ditiup angin dan jarang tumbang!

Begitu pun dengan kita! Jika kita
bertindak dan berpikir dinamis dan juga fleksibel,
maka kita akan lebih tahan dalam menghadapi tantangan
dan perubahan serta masalah yang datang.

Langkah 2. Berpikirlah bahwa INILAH yang terbaik untuk kita!

Saat kenyataan tidak sesuai dengan impian,
percayalah bahwa inilah yang terbaik untuk kita.
Kita tidak pernah tahu skenario yang telah ditetapkan-Nya.

Karena, segala sesuatu yang menurut logika kita baik,
boleh jadi justru sebaliknya di mata tuhan tidak baik

Berpikirlah selalu positif atas apapun yang terjadi pada dirimu.
Jangan biarkan satu kegagalan membuat kamu kecewa, apalagi frustasi berlarut-larut
lalu bunuh diri, Oh tidak.! (Backsound: krispatih-mengenangmu)

Sahabat, Katakan didepan Cermin!!!

“Sudahlah, kamu tdk perlu kecewa,
Tuhan akan menggantinya dengan YANG LEBIH BAIK!
Tuhan tau kamu orang yg baik & bijaksana.
Hidupmu penuh dengan kelimpahan,
dan kamu memang dilahirkan utk selalu jadi pemenang!”

Ini adalah ’afirmasi‘.
Afirmasi adalah kata-kata positif
yang diucapkan berulang-ulang & diyakini untuk membentuk citra postif
untuk mengurangi sikap-sikap negatif yang ada dalam diri kita.
Kata-kata afirmasi ini bisa kita buat/rancang sendiri,
dan lalu bisa diucapkan secara verbal atau dalam hati.
Menurut ahli Hynotherapy, afirmasi itu akan ‘terekam’ oleh alam bawah sadar kita heheheh

Dan jika terus-menerus diucapkan & dengan penuh keyakinan,
maka kita SEDANG atau AKAN menjadi seperti itu adanya,
yang kita ucapkan! Dengan kata lain, afirmasi itu sama seperti DO’A.

Meski saat ini apa yang kita harapkan
belum sesuai dengan impian, namun kita harus….

3. Tetap Siapkan MENTAL PEMENANG!

Saat kita mengalami kegagalan,
Lebih baik instropeksi diri daripada menyalahkan takdir.
Siapa tahu, kita memang belum siap jadi pemenang! :-)
Bisa jadi kesuksesan hanya akan membuat kita menjadi sombong,
dan karena saking sayangnya Tuhan kepada kita, Ia tidak mau hamba-Nya berbuat dosa. :-)

Saudaraku yang zupper, (gayanya om Mario)
setiap kemenangan itu lebih baik dirintis
dari setiap peluh kita! Akan lebih baik
jika kemenangan itu kita dapatkan setahap demi setahap.
Banyak orang sukses, tapi kemudian mereka terjatuh,

ada yang kepleset ditangga, atau ada yang gara-gara mabuk terus ngira jendela lantai 10
adalah pintu.  Ada yang bangkit lagi, ada yang tidak, ada yang mati (bunuh diri).
Liku hidup setiap manusia memang tidak sama.

Tapi ingat, kalau perlu catat,!
kesempatan untuk menang itu selalu terbuka bagi siapa saja,
tanpa terkecuali!

Rejeki dan kemenangan itu sungguh tidak terkira
banyaknya dari Tuhan, masih banyak yang menggantung di langit! :-)
Sekarang tinggal bagaimana caranya?! Apakah mau meraihnya?
atau mengharapkan turun dengan sendirinya?
atau memandangi indahnya di langit?

Jangan pernah memilih yang kedua dan ke tiga :-)

Kita semua tahu bahwa yang namanya kemenangan
bukan milik mereka yang pintar, namun seringkali dimiliki oleh
mereka yang… tdk pernah berhenti berusaha! dan tidak pernah putus asa :D

Shared By: Blog Kang Robby

Sabtu, 11 Juni 2011

8 Kiat Menangkal Radiasi Ponsel


 
Jakarta - Hasil penelitian terbaru dari WHO mengungkapkan bahwa radiasi ponsel dapat menyebabkan kanker otak. Radiasi ponsel dikategorikan sama dengan zat karsinogenik berbahaya seperti timbal, asap knalpot, dan kloroform.

Simak 8 kiat mengurangi radiasi tersebut yang dikutip detikINET dari eHow, Rabu (1/6/2011):

1. Gunakan Headset
Inilah cara yang paling mudah untuk menangkal ancaman radiasi ponsel. Tentu saja, kita tidak bisa menolak untuk menerima panggilan telepon. Namun jika Anda masih khawatir, ada baiknya menggunakan headset. Intinya adalah telepon genggam Anda, tidak terlalu dekat dengan otak.

2. Kurangi Bluetooth dan Headset Wireless
Menggunakan headset bisa menjadi pilihan untuk mengurangi radiasi ponsel. Namun ingat, pilih headset yang konvensional alias yang masih menggunakan kabel untuk terhubung dengan ponsel. Jangan menggunakan headset wireless. Fitur bluetooth di ponsel juga jangan terus menerus diaktifkan, gunakan seperlunya.

3. Speakerphone
Menggunakan speaker ketika bertelepon juga bisa menjadi pilihan. Namun tentu saja, ada rasa kurang nyaman ketika hal ini dilakukan di tempat publik. Tapi setidaknya, Anda tidak harus menempelkan ponsel di kepala ketika bertelepon. Jadi pilihan ini mungkin bisa digunakan ketika Anda tengah berada di tempat privat seperti di rumah.

4. Casing Penahan Radiasi
Kekhawatiran radiasi ponsel belakangan memunculkan casing berkemampuan khusus yang diklaim bisa meminimalisir hantaran radiasi yang berasal dari ponsel. Jika dirasa diperlukan, mungkin Anda bisa mencarinya di pertokoan.

5. Sudut Ruangan
Hindari menerima telepon di sudut ruangan. Sudut ruangan yang biasanya sepi namun di sisi lain terkadang juga menjadi tempat di mana sinyal telepon menjadi lemah. Nah, sinyal yang lemah justru dikatakan memicu radiasi yang lebih tinggi. Hal ini berlaku pula di area yang sempit/kecil seperti lift.

6. Jangan Selalu Menempel
Ponsel yang Anda gunakan boleh saja menjadi gadget kesayangan, namun untuk kesehatan yang lebih baik, ada baiknya Anda jangan selalu nempel dengan ponsel tersebut. Ponsel yang tidak digunakan direkomendasikan ditaruh di tas atau di atas meja. Hal ini dikatakan lebih baik ketimbang ditempatkan di kantong celana.

7. Diam Kala Menelpon
Ketika menerima telepon sebaiknya Anda tidak berjalan-jalan. Pasalnya, dalam keadaan bergerak maka sinyal ponsel akan terus mencari pancaran sinyal yang kuat dari base transceiver station (BTS). Aktivitas ini justru akan menguatkan radiasi.

8. Gunakan Dua Telinga
Hindari penggunaan satu bagian telinga ketika bertelepon. Misalnya, selalu menerima telepon dengan telinga bagian kiri saja. Menurut para ahli, hal ini justru tidak baik. Manfaatkan kedua telinga Anda untuk meminimalisir radiasi yang terpancar.


Saat ini Badan Lingkungan Eropa telah mendorong untuk melakukan studi lebih lanjut. Namun tidak salahnya juga kan kita melakukan suatu langkah antisipasi ketimbang mengambil risiko di masa depan.

Semoga bermanfaat
Ardhi Suryadhi - detikinet

Petani Desa Kebagoran adakan Sekolah Lapang Iklim Tanggulangi Ulat Bulu



KEBUMEN-Ulat bulu di berbagai daerah Jawa Tengah menimbulkan kecemasan petani Kebumen. Berbagai upaya pun lantas dilakukan, agar hama tersebut tidak sampai ke kabupaten berslogan Beriman itu.

Salah satunya melalui sekolah lapang iklim yang digiatkan petani Desa Kebagoran, Kecamatan Pejagoan, Kebumen, kemarin. Sekolah untuk mengenal organisme pengganggu tanaman (OPT) dan bencana alam itu juga langsung dipraktikkan petani. 

Setelah mendapatkan teori dari pemandu lapangan Suripto dan pengamat hama Sugino,  peserta kegiatan yang dihadiri Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Kebumen Dian Lestari SP itu juga terjun ke sawah yang sudah ditanami padi. Hadir pula perwakilan dari Laboratorium Pengaman Hama Temanggung, I Made Redana.

Menurut Suripto, iklim berpengaruh besar terhadap OPT. Karena itu, dengan mengikuti sekolah lapang iklim, petani diharapkan bisa mengatasi hama yang terdeteksi tersebut, seperti serangan ulat bulu.
Selain suhu, petani juga mengenal kelembaban, angin, dan curah hujan. Termasuk bencana alam seperti banjir dan kekeringan.

Dalam praktiknya, petani Kebagoran menggunakan alat berupa termometer untuk mengetahui suhu, hidrometer mengetahui kelembaban, serta kombrometer untuk mengetahui curah hujan.
Lebih Waspada ”Dengan penanganan tersebut, petani menjadi lebih waspada. Setelah ditemukan ada OPT, lantas ditanggulangi,” imbuh Suripto.
Di Kebumen, sekolah lapang iklim itu baru dilaksanakan empat kali. Antusias petani Kebumen cukup besar untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Apalagi akhir-akhir ini merebak ulat bulu yang mengancam tanaman pertanian dan perkebunan. Situasi yang menakutkan bagi petani itu ternyata sudah sampai ke Purworejo.

Bagi Suripto, keingintahuan petani di Kebumen akan kondisi iklim itu suatu kemajuan. ”Setidak-tidaknya petani menjadi tahu dan mau mengamati di lapangan sehingga kendala OPT bisa ditanggulangi,” imbuhnya.

Dengan penanggulangan OPT, Suripto optimistis produksi pertanian meningkat hingga 25 persen.

Ketua Komisi B Dian Lestari berharap, sekolah lapang iklim itu digiatkan petani di Kebumen.

”Ini penting, apalagi akhir-akhir ini merebak ulat bulu,” kata Dian yang mengaku baru berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanhut) Kebumen, Ir Djoenedi Fatchurrahman MSi, terkait antisipasi wabah ulat bulu di sejumlah daerah tersebut.
Mengenai keberadaan sekolah tersebut, Dian meminta Pemkab untuk mengalokasikan dana pendamping. Dan, memberikan bantuan alat kepada petani yang sudah mengikuti sekolah lapang tersebut. (K5-55)

 

Suara Kedu

17 April 2011

Senin, 02 Mei 2011

Belajar Sistem Pendidikan Dari Ki hajar Dewantoro

SISTEM AMONG PADA MASA KINI:
KAJIAN KONSEP DAN PRAKTIK PENDIDIKAN
Muhammad Nur Wangid

Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, FIP Universitas Negeri Yogyakarta
e-mail: nurwangid2003@yahoo.com

Pendahuluan
Selama ini pendidikan terutama di sekolah telah banyak menerapkan berbagai sistem dan metode pendidikan dan pembelajaran yang berasal dari negara-negara barat. Memang sistem tersebut dapat berhasil, namun tidak sedikit pula karena tidak sesuai dengan nilai dan budaya bangsa Indonesia atau bahkan bertentangan maka system tersebut tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Dengan demikian, praktik teori dan filsafat pendidikan tersebut masih juga dianggap kurang memuaskan baik di luarnegeri, seperti Amerika Serikat (Gess-Newsome, dkk:2003) maupun di Indonesia(Tafsir, 2007:8). Dari perspektif ini maka perlu dicari model pelaksanaan teoripendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kebudayaan Indonesia, dengan kata lain bersifat kontektual.
Sementara itu, masyarakat Indonesia masih banyak yang lupa bahwa bangsa Indonesia mempunyai sistem dan metode pendidikan asli Indonesia, ciptaan putra Indonesia sendiri yang disebut dengan Sistem Among yang merupakan teori atau gagasan dari Ki Hadjar Dewantara, yang telah diterapkan melalui pendidikan Taman Siswa. Menurut Supriyanto (2008:12),

Sistem Among merupakan gagasan otentik putra Indonesia, yang digali dari kearifan lokal. Lebih lanjut dikatakan, sistem ini dapat manjadi unggulan dalam pendidikan di Indonesia dalam menghadapi persaingan pendidikan antar negara, bahkan dapat menjadi Niche (sistem yang khas, unggulan) dalam menghadapi persaingan global dalam dunia pendidikan. Sistem Among Ki Hadjar Dewantara merupakan metode yang sesuai untuk pendidikan karena merupakan metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Pendidikan sistem Among bersendikan pada dua hal yaitu: kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak hingga dapat hidup mandiri. Sistem Among sering dikaitkan dengan asas yang berbunyi: Tut Wuri Handayani, Ing madya mangun karsa, Ing ngarso sung tuladha. Asas ini telah banyak dikenal oleh masyarakat daripada Sistem Among sendiri, karena banyak dari anggota masyarakat yang belum memahaminya.http://www.syukrnohp.co.cc

 Sistem Among berasal dari bahasa Jawa yaitu mong atau momong, yang artinya mengasuh anak. Para guru atau dosen disebut pamong yang bertugas untuk mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu dengan kasih sayang. Tujuan dari Sistem Among adalah membangun anak didik untuk menjadi manusia beriman dan bertaqwa, merdeka lahir dan batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketrampilan, serta sehat jasmani dan rokhani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya. Dalam pelaksanaan Sistem Among, setelah anak didik menguasai ilmu, mereka didorong untuk mampu memanfaatkannya dalam masyarakat, didorong oleh cipta, rasa, dan karsa.

Beberapa hasil penelitian mengenai sistem pendidikan menunjukkan hasil sebagai berikut. Penelitian yang dilakukan oleh Iswanti, dkk (2007:56) mengenai system pendidikan berasrama bagi calon guru sekolah dasar, menyimpulkan bahwa “system pendidikan guru SD berasrama dapat meningkatkan sikap dan kepribadian calon guru“. Sedangkan penelitian Supriyanto (2008:12) yang membandingkan antara pembelajaran dengan Sistem Among dengan Student Centered Learning (SCL), mengatakan bahwa dalam tataran tertentu pembelajaran dalam Sistem Among lebih maju dan sesuai dari pada metode SCL, sebaliknya dalam tataran tertentu metode SCL yang diterapkan di Indonesia masih bersifat sentralistik dan belum menjadi suatu metode yang secara otonom dan otentik dimiliki oleh guru atau dosen. Sementara penelitian di kancah (disekolah) mengenai pembelajaran dengan Sistem Among masih langka dilakukan.

Berdasarkan beberapa kajian tersebut, dapat dilihat berbagai keunggulan dariSistem Among, namun sayang kajian atau penelitian mengenai hal itu belum banyakdilakukan. Beberapa fihak mengkhawatirkan, bila tidak dilakukan kajian yangmendalam, sistem tersebut dilupakan atau tidak dipahami oleh generasi yang akan datang, oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini akan mencoba mengkaji untuk mendiskripsikan Sistem Among dari naskah-naskah yangrelevan, disamping itu juga untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan dengan SistemAmong di sekolah, terutama di sekolah-sekolah (Perguruan) Taman Siswa. Berdasarkanhal itu maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimanakah konsep sistem among sebagai suatu model pendidikan dan pembelajaran yang terdapat dalam sumber tertulis?
2. Bagaimanakah penerapan/pelaksanaan sistem among dalam praktik pendidikan
        sekarang, khususnya di sekolah/perguruan Taman Siswa?

Cara Penelitian
Melalui sinergi antara diperolehnya informasi tentang konsep sistem among dalam berbagai sumber tertulis dan terkumpulkannya informasi tentang pelaksanaan pendidikan sistem among dalam perguruan Taman Siswa maka diharapkan akandiperoleh suatu informasi yang lebih komprehensif tentang eksistensi dan relevansi sistem among dalam konteks perkembangan zaman sekarang.

Subjek penelitian adalah anggota Majelis Luhur Taman Siswa, pamong dalam Perguruan Taman Siswa, dan siswa di sekolah-sekolah Taman Siswa. Penentuan subjekpenelitian menggunakan purposive sampling atau sampling bertujuan dengan
memperhatikan ciri-ciri tertentu pada subyek penelitian, berikut.
1. Anggota Majelis Luhur Taman Siswa:
 a). sudah menjadi anggota majelis minimal 5 tahun,
 b). mampu menberikan informasi dengan baik. Subjek penelitian yang terpilih adalah            Bapak Skt yang telah menjadi anggota Majelis uhur Taman Siswa selama lebih dari           20 tahun
2. Pamong Perguruan Taman Siswa:
a). sudah menjadi pamong minimal 5 tahun,
b). pernah mengikuti pendidikan/pelatihan Ke Taman Siswaan,
c). dapat memberikan informasi yang diperlukan. Subjek penelitian yang terpilih adalah
      Bapak Smd dan Ibu Smn yang menjabat sebagai kepala sekolah, dan pamong,serta telah menjadi pamong di perguruan Taman Siswa selama 15 tahun
3. Siswa Perguruan Taman Siswa:
a) Pria/Wanita,
b) Kelas tiga pada tingkatsekolah yang bersangkutan,
c).Dapat memberikan informasi yang diperlukan.Subyek penelitian yang terpilih adalah         subyek yang berinisial Es, RN, dan UB.
Di samping itu, subjek penelitian sebagai sumber data yang dapat dijangkau dalampenelitan ini adalah alumni perguruan Taman Siswa pada tahun 1960-an. Subjek ini dipertimbangkan sebagai sumber penelitian ini untuk bisa memberikan gambaranperkembangan konsep sistem among pada waktu lampau sampai dengan sekarang.Dengan demikian, penelitian ini menjadi lebih jelas dan komprehensif terutama dalampelaksanaan sistem among dari waktu ke waktu.
Penelitian ini dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan pertimbanganaksesibilitas dan orisinalitas sumber, dan juga memperhatikan tingkatan dan jenissekolah. Terpilih sebagai sekolah yang diteliti, adalah Taman Dewasa atau SekolahMenengah Pertama (SMP).
Data yang diperoleh di analisis dengan analisis deskriptif kualitatif dilanjutkandengan analisis tematik. Dalam penelitian kualitatif, analisis data pada dasarnya adalahproses mengorganisasikan dan mereduksi (menyusutkan) data ke dalam pola, kategoridansatuan uraian dasar sehingga dapat ditentukan tema dan dapat dirumuskan suatukesimpulan. Pekerjaan analisis yang dilakukan dalam hal ini adalah mengatur,mengurutkan, memberi kode, dan mengkategorikan data sehingga dapat ditemukan temayang sesuai dengan aspek yang diteliti.

Hasil Penelitian dan Pembahasan
a. Konsepsi Sistem Among dalam Berbagai Dokumen.
Sistem Among merupakan salah satu dari ajaran Ki Hajar Dewantara. Sepertidikatakan oleh Suratman (1992: 21) ajaran Ki Hajar Dewantara meliuputi bermacamragam,ada yang sifatnya konsepsional, petunjuk operasioanl praktis, fatwa, nasehat, dan sebagainya. Dari banyak hal tersebut, yang sifatnya konsepsional bisa ditemukan padabidang-bidang sesuai predikatnya.

Di bidang pendidikan Ki Hajar Dewantara memmpunyai konsepsi tentang“Tripusat Pendidikan”, suatu upaya pendidikan nasional yang meliputi pendidikan ditiga lingkungan hidup, ialah lingkungan keluarga, perguruan dan masyarakat. Pada segimetodologik Ki Hajar Dewantara mempunyai Metode Among, ialah metode pendidikanyang berjiwa kekeluargaan, serta bersendikan dua dasar, yaitu: kodrat alam dankemerdekaan. Di bidang kebudayaan, sebagai upaya pembinaan kebudayaan, Ki HajarDewantara memiliki konsepsi tentang teori Trikon, ialah: kontinuitas, konvergensi, dan konstrisitas. Di bidang politik kemasyarakatan Ki Hajar Dewantara mempunyai fahamdan pengertian tentang demokrasi yang khas, yang dikenal sebagai demokrasi dankepemimpinan, suatu demokrasi yang berjiwa kekeluargaan. Ajaran Ki Hajar Dewantarayang merupakanpedoman atau petunjuk operasional praktis, diantaranya disebut:Tringa, Tri pantangan, Wasita Rini, Sepuluh Sendi Hidup Merdeka dan sebagainya.Yangberujut fatwa antara lain: “Hak diri untuk menuntut salam dan bahagia”, “salam bahagiadiri tak boleh menyalahi damainya masyarakat”, “Neng, Ning, Nung, Nang”, dan lainsebagainya

b. Pengertian Sistem Among
Sistem Among adalah cara pendidikan yang dipakai dalam sistem pendidikanTaman Siswa, dengan maksud mewajibkan pada guru supaya mengingati danmementingkan kodrat-iradatnya anak-anak, dengan tidak melupakan segala keadaanyang mengelilinginya. Oleh karena itu alat ”perintah, paksaan dengan hukuman” yangbiasa dipakai dalam pendidikan zaman dahulu, harus diganti dengan aturan: memberituntunan dan menyokong pada anak-anak di dalam mereka bertumbuh dan berkembangkarena kodrat-iradatnya sendiri, melenyapkan segala yang merintangi pertumbuhan danperkembangan sendiri itu serta mendekatkan anak-anak kepada alam dan masyarakatnya.Perintah dan paksaan hanya boleh dilakukan jika anak-anak tidak dapat dengankekuatannya sendiri menghindarkan mara-bahaya yang akan menimpanya, sedangkanhukuman tak boleh lain dari pada sifatnya kejadian yang sebetulnya harus dialami,sebagai buah atau akibat kesalahannya; hukuman yang demikian itu lalu semata-matamenjadi penebus kesalahan, bukan siksa dari orang lain (Tauchid, 1972:99-101 dalam 50Tahun Taman siswa).

Ki Hadjar Dewantara dalam Pidato Penerimaan Gelar Doktor Honoris Causa(HC) dari UGM tahun 1956 dalam 60 tahun Taman Siswa menjelaskan analog hubunganguru-siswa serupa dengan hubungan petani dan tanamannya. Untuk itu guru terhadappara murid harus berfikir, berperasaan dan bersikap sebagai Juru Tani terhadaptanamannya. Orang bercocok-tanam harus takluk kepada kodratnya tanaman, janganlahtanaman ditaklukkan pada kemauan si-petani. Haruslah si petani menyerahkan dirinya,yakni menghilangkan kemurkaan dirinya, dengan iklas dan ridla kepada kepentingantanamannya dan mengejar kesuburan tanamannya semata-mata. Kesuburan tanamannya inilah yang menjadi kepentingan si juru-tani. Haruslah ia tahu akan perbedaan antarapadi, jagung, dna tanaman lainnya dalam keperluan masing-masing untuk dapatbertumbuh dengan subur dan dapat berhasil. Karena itu perlulah si petani tahu, insaf danmengerjakan segala ilmu atau pengetahuan pertanian, yang benar dan baik. Dalam padaitu janganlah membeda-bedakan pula dari mana asalnya pupuk, asalnya alat, atauasalnya ilmu pengetahuan pertanian, dan sebagainya; segala yang dapat enyuburkantanaman menurut kodrat dan irodatnya harus dipakai olehnya (petani).

Aplikasi sistem among dalam pendidikan kehidupan masyarakat; Di dalammasyarakat ada beberapa macam usaha bersama sehingga mewujudkan usahamasyarakat, seperti: pemerintahan, pertanian, perdagangan, dan sebagainya. Dalamasyarakat yang masih muda dan primitif, sering terdapat satu orang yang mengerjakan
berbagai macam pekerjaan tersebut. Akan tetapi datanglah waktunya perbedaan dasardan kecakapan terlihat, dan dipergunakan untuk pembagian pekerjaan (diferensiasi);inilah sifat masyarakat yang dewasa. Diferensiasi ini tidak boleh memecah-belahkangolongan-golongan tersebut, akan tetapi haruslah memperhubungkan semuanya untukberlangsungnya keperluan umum, yaitu tertib-damainya masyarakat. Dalam hal ini,sistem among mengandung arti memerdekakan tiap-tiap manusia untuk hidup menurutkodrat-irodatnya sendiri-sendiri, akan tetapi mewajibkan mengajar “tertib-damainya”Umum (30 Tahun Taman Siswa).

c. Asumsi Sistem Among
Makna pendidikan
Pendidikan tidak dimaknai dengan paksaan. Lebih tegas lagi dikatakan:

”...apabila kita mengetahui, bahwa sesungguhnya perkataan ”opvoeding” atau”paedagogiek” itu tiadalah dapat diterjemahkan dengan bahasa kita.Panggulawentah (bahasa Jawa) itu bukan memberi pengertian ”opvoeding” ,sebab panggulawentah itu hanya pekerjaannya si dukun bayi. Yang hampirsemaksud yaitu perkataan kita Momong, Among, dan Ngemong” (Ki HajarDewantara pidato pada rapat umum Taman Siswa di Malang 2 Pebruari 1930
dalam Bagian Pertama Pendidikan, 1977: 21).

Pemaknaan pendidikan yang demikian inilah yang mendasari pendidikan itudilakukan. Caranya tidaklah menggunakan pemaksaan. Pendidik memiliki kewajibanmencampuri kehidupan anak didik jika sudah ternyata si anak berada di atas jalan yangsalah.

Dasar Pendidikan
Dalam buku karya Ki Hadjar Dewantara bagian Pertama (1977: 13-14) dijelaskantentang dasar pendidikan sebagai berikut. Pendidikan tidak memakai dasar ”regering,tucht en orde” tetapi ”orde en vrede” (tertib dan damai, tata-tentrem). Pendidik wajibmenjaga atas kelangsungan kehidupan bathin sang anak, dan haruslah anak dijauhkandari tiap-tiap paksaan. Namun demikian, pendidik juga tidak akan ”nguja”(membiarkan) anak-anak. Pendidik mempunyai kewajiban mengamati, agar anak dapatbertumbuh menurut kodrat. Tucht” (hukuman) itu dimaksudkan untuk mencegahkejahatan. Sebelum terjadi kesalahannya, aturan hukumannya sudah harus tersedia.Misalnya, barang siapa datang terlambat tentu akan dapat hukuman berdiri di mukakelas. Hukuman semacam itu, pertama adalah tiada setimpal dengan kesalahannya.Kedua, tiap-tiap aturan yang mendahului kenyataannya, itulah bertentangan dengansifatnya roch manusia, yang tiada dapat dimasukkan dalam peraturan. Tanda buktinyadalah untuk mengatur ketertiban pergaulan hidup, sudah ada macam-macam dan ribuanperaturan. Tetapi setiap hari orangpun masih selalu membuat aturan baru. Itulahtandanya setiap peraturan tiada akan bisa sempurna. ”Orde” (ketertiban) yangdimaksudkan dalam pendidikan barat jelaslah hanya paksaan dan hukuman. Dari sebabitu dasar pendidikan menjadi orde en vrede, tertib dan damai, inilah yang akan dapatmenentukan syarat-syarat sendiri, yang tiada akan bisa bersifat paksaan. Dan olehkarenanya, maka hukuman yang tiada setimpal dengan kesalahannya pun tidak akan
terdapat.

Kesemuanya itu merupakan syarat-syarat jika pendidikan hendak mendatangkanmanusia yang merdeka dalam arti kata yang sebenar-benarnya. Yaitu lahirnya tiadaterperintah, batinnya bisa memerintah sendiri dan .... dapat berdiri sendiri karenakekuatan sendiri. Oleh karena itu dalam pendidikan harus senantiasa diingat, bahwakemerdekaan iu bersifat tiga macam: berdiri sendiri (zelfstandig), tidak tergantungkepada orang lain (onafhankelijk), dan dapat mengatur dirinya sendiri(vrijheid,zelfbeschikking) (Ki Hadjar Dewantara, 1977: 4).

Maksud pendidikan
Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapunmaksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anakanakitu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggauta masyarakat dapatlahmencapai keselamatan dan keahagiaan setingi-tingginya. Oleh karen itu, haruslah diingatbahwa pendidikan hanya suatu ”tuntunan” di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Iniberarti, bahwa hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendakkaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidupjelas hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Kekuatan kodrati yang ada padaanak-anak tidak lain adalah segala kekuatan di dalam hidup batin dan hidup lahir darianak-anak itu, yang ada karena kekuasaan kodrat. Kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaikilakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu (Ki Hadjar Dewantara, 1977: 20-21).

Peralatan pendidikan
Ki Hadjar Dewantara (1977: 29) menjelaskan yang dimaksud dengan perkataan”peralatan” itu sebenarnya alat-alat yang pokok, cara-caranya mendidik. Dengandemikian sebenarnya cara-cara itu teramat banyaklah jumlahnya. Akan tetapi dari sekianbanyak itu dapatlah dibagi dalam beberapa kategori, sebagai berikut: (a) memberi contoh(voorbeeld); (b) pembiasaan (pakulinan, gewoontevorming); (c) pengajaran (leering,wulang-wuruk); (d) perintah, paksaan, dan hukuman (regeering en tucht); (e) laku(zelfbeheersching, zelfdiscipline); (f) pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngroso,beleving). Alat-alat itu tidak perlu dipilih atau dilakukan semuanya, bahkan ada yangtidak mufakat dengan salah satu dari yang termaktup tersebut. Seringkali seorangpendidik mementingkan sesuatu bagian dan pada umumnya memilih cara-cara itudihubungkan dengan jenis keadaan, khususnya kondisi usia anak.

Sistem Paguron.
Menurut Hariyadi (1992:266) perguruan, berasal dari bahasa Jawa Paguron,mempunyai arti tempat dimana guru tinggal, dapat juga berarti ajarannya itu sendiri.Dengan demikian suatu paguron selain sebagai sekolah juga sebagai tempat tinggal guru.Hal ini dimaksudkan agar kegiatan para guru dan murid tidak terbatas pada jam-jamresmi belajar, tapi kegiatan tersebut diadakan sesudah jam-jam resmi belajar. Dengandemikian suasana perguruan menjadi hidup dengan berbagai kegiatan oleh raga,kesenian, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut berada dibawah bimbingan danpengawasan para guru. Jam paguron Tamansiswa adalah jam kehidupan keluargasepanjang hari dan dikenal bahwa tugas tersebut selama 24 jam.

Perguruan sebagai tempat tinggal pamong bersama murid dan sekaligus sebagaitempat berguru (sekolah) dikenal dengan istilah “School worningtype” merupakanciptaan Ki Hajar Dewantara. Dalam perguruan semacam itu, hubungan kekeluargaanantara pamong dan siswa, antara siswa dan siswa sangat erat. Hubungan kekeluargaanini meresap pada sanubari baik pada siswa maupun pamong. Hal ini sangat berbedadengan sekolah sitem Barat, karena sesudah jam pelajaran selesai, maka sepilah suasanasekolah tersebut.

d. Pelaksanaan Sistem Among pada Konteks Sekarang
Tamansiwa lahir pada tanggal 3 Juli 1922, dengan terminologi asing“Nationale Onderwijs Tamansiswa” atau dikenal sebagai Perguruan NasionalTamansiswa. Berdirinya Tamansiswa sebenarnya merupakan kelahiran kembali Sistem Paguron yang telah digunakan dikalangan masyarakat Indonesia. Salah satu ciripenerapan siste among adalah dengan sistem paguron.

Konsep Ki Hajar Dewantara mengenai sitem paguron banyak keuntungandidapat melalui sistem tersebut. Terdapat sekolah yang masih melaksanakan sistempaguron tersebut dengan lengkap, namun pada umumnya dalam beberapa hal sudahtidak mungkin melaksanakan dengan lengkap. Sekolah yang masih melaksanakan sistempaguron dengan lengkap adalah Perguruan Taruna Nusantara di Magelang yangmerupakan prototipe Paguron Tamansiswa dalam skala nasional yang dikelola secaramodern dengan perlengkapan alat pendidikan yang canggih.

Perguruan Taruna Nusantara tersebut pada hakekatnya menggunakan prinsipprinsipdasar dari perguruan Tamansiswa yang dilaksanakan bekerjasama denganABRI. Sekolah menengah tersebut menggunakan sitem asrama sebagai sistempendidikannya, sehingga semua siswa tinggal bersama-sama satu kompleks dengan parapamong dan pengurus sekolah lainnya. Sumarno (1992) mengatakan SMA tersebutmenggunakan Tri Pusat Sistem, yaitu memadukan tiga lingkungan pendidikan, masingmasingadalah pendidikan sekolah, pendidikan keluarga (asrama). dan pendidikanmasyarakat (sekitar kompleks). Sekolah tersebut juga menggunakan Sistem Among atauSistem Tutwuri Handayani sebagai asas pengajaran, pengasuhan dan pelatihannya.Kurikulum yang digunakan sesuai dengan kurikulum yang ditentukan oleh Depdiknad,ditambah dengan kurikulum khusus yang ditentukan oleh Lembaga Perguruan Taruna Nusantara. Kurikulum khusus tersebut berwujud: sistem kehidupan di asrama,pendidikan kenusantaraan, dan pendidikan bela negara. Melalui kurikulum khusustersebut diharapkan lebih mempertebal semangat kebangsaan, wawasan kejuangan, dan wawasan kebudayaan.

Sistem pendidikan yang digunakan di Taruna Nusantara adalah Sistem Amongmaka para siswa Taruna Nusantara wajib tinggal di asrama, satu kompleks dengan parapamong perguruan, sehingga para tenaga kependidikan disebut Pamong. Berdasarkanfakta di Perguruan Taruna Nusantara tersebut maka pada dasarnya SMA Taruna Nusantara menerapkan Sistem Among dengan lengkap. Dan ternyata ajaran-ajaran KiHajar Dewantara dapat menjangkau kedepan, karena Sistem Paguron yang dikemukakandapat dipadukan dengan penerapan teknologi canggih.

Sebagai bahan pembanding mengenai pelaksanaan Sistem Among di sekolahTamansiwa yang lain, maka penelitian ini melaksanakan pengamatan mengenai prosesbelajar mengajar dan kehidupan di Taman Dewasa Jetis Yogyakarta. Taman Dewasamerupakan pendidikan pada tingkat menengah pertama (SMP). Sekolah tersebut beradadibawah Perguruan Tamansiwa Cabang Jetis. Dari hasil pengamatan yang dilakukanoleh peneliti, sistem paguron yang berupa asrama bagi pamong sudah tidak ditemui lagi.
Menurut informan seorang alumni Taman Dewasa Jetis yang berhasil ditemui,pada tahun enampuluhan, di sekeliling kompleks tersebut (bagian belakang dan kirigedung sekolah), pada saat itu tinggal tiga pamong dan satu pamong administrasi besertadengan keluarganya, sehingga kompleks sekolah menjadi lebih hidup karena selalu adapamong yang bisa ditemui. Ketika hal itu ditanyakan oleh peneliti kepada kepalasekolah, dikatakan bahwa kondisi lahan sekarang tidak memungkinkan lagi. Dengan luastanah yang sama seperti pada tahun enampuluhan, jumlah siswa yang semakin banyak(lima klas 7, lima klas 8, dan lima klas 9), maka tanah yang dulu digunakan sebagaiperumahan pamong sekarang digunakan untuk membangun ruangan klas. Bahkanitupun belum cukup, sehingga beberapa kelas berada dilantai 3, dan rencana semuabangunan akan berlantai 3. Namun demikian, ketika peneliti mengamati kegiatan belajarmengajar didalam kelas, suasana kekeluargaan antara pamong dan siswa masihkelihatan dengan jelas. Proses pembelajaran berlangsung seperti halnya orang tua yang membimbing anaknya.

Di samping mengenai tempat tinggal, pada tahun enampuluhan para pamongsering berkunjung kerumah siswa (home visit) untuk mengakrabkan hubungan pamongdengan keluarga siswa. Ketika hal itu ditanyakan kepada salah satu pamong, kondisisekarang sudah berbeda. Kunjungan kerumah siswa dilaksanakan bila terdapatpermasalahan siswa yang perlu dipecahkan bersama dengan orang tua siswa. Hal ituantara lain disebabkan padatnya kurikulum yang harus diselesaikan oleh guru.
Dalam pelaksanaan PBM, pamong membuka pelajaran dengan mengucapkankata “ salam” yang disambut siswa-siswa dengan jawaban “ salam” juga. Selanjutnyapamong meminta siwanya untuk merapikan baju masing-masing, menyiapkan bukubukuyang akan digunakan, dan selanjutnya memberikan materi pelajaran dan evaluasi.Untuk menutup belajar mengajar, pamong mengucapkan kata “ salam” lagi dan dijawaboleh siswa dengan “ salam”
.Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara kepada beberapa informan adalahada beberapa hal dalam sistem Among yang sudah tidak dilaksanakan lagi di TamanDewasa Jetis, yaitu mengenai rumah untuk pamong, dan kunjungan rumah yang lebihterfokus pada siswa yang mengalami masalah yang harus diselesaikan bersama orangtua. Untuk proses pembelajaran masih terlihat dengan jelas suasana penerapan SistemAmong. Untuk kurikulum muatan lokal sangat terlihat ajaran-ajaran Ki HajarDewantara, yaitu dengan dilaksanakannya muatan lokal Bahasa Jawa dan karawitanyang merupakan bagian dari kebudayaan lokal.
Beberapa hal yang seharusnya dilaksanakan seperti sistem Paguron sudah tidakdapat dilaksanakan karena beberapa keterbatasan. Hal tersebut tidak menyalahi ajaran KiHajar Dewantara, karena beliau pernah mengatakan bahwa pelaksanaan pendidikandisesuaikan dengan jaman, namun demikian harus mengingat pedoman yang sudahdigariskan yantu Sifat, Bentuk, Isi, dan Irama (SBII). Sifat harus tetap, yang bolehberubah adalah Bentuk Isi dan Iramanya sesuai dengan kemajuan alam dan jamannya.Dengan mengikuti pedoman SBII tersebut, Sistem Among mengandung dinamika yangtinggi, prospektif, menjangkau masa depan, tanpa harus meninggalkan ciri-ciri khas Tamansiswa.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil temuan di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Sebagai suatu model konseptual, sistem among karya Ki Hadjar Dewantara yangterdapat dalam berbagai dokumen, merupakan suatu sistem pendidikan danpembelajaran yang lengkap dan komprehensif, baik teknis maupun filosofis.
2. Pada dasarnya sistem among dapat diterapkan dalam situasi saat ini. Hal initerbukti dari proses belajar mengajar dan kehidupan di SMA Taruna Nusantarayang mengadopsi konsep sistem among, dan ternyata dapat terarah dan berhasil.Memang, ada beberapa dari sistem among sudah tidak dilaksanakan lagi diperguruan Taman Siswa, khususnya Taman Dewasa Jetis, yaitu mengenai rumahuntuk pamong, dan kunjungan rumah. Namun,untuk proses pembelajaran masihterlihat dengan jelas suasana penerapan Sistem Among, terlebih untuk pelaksanaan kurikulum muatan lokal sangat terlihat ajaran-ajaran Ki HajarDewantara.
3. Sebagai suatu konsep pemikiran untuk meningkatkan kualitas pendidikan danpembelajaran pada umumnya sudah selayaknya sistem among karya Ki HadjarDewantara perlu dipertimbangan untuk dapat dikaji lebih jauh sehingga dapatditerapkan secara proporsional sehingga bukan hanya ada dalam dokumentasisemata.
4. Bagi para guru pada khususnya dan pendidik pada umumnya, sistem amongbeserta segala perangkatnya patut untuk diperhatikan dan dipertimbangkansebagai suatu metode yang dapat dimanfaatkan/diterapkan untuk memperbaikimutu pembelajaran dan pendidikan pada umumnya
5. Mengingat keterbatasan penelitian ini maka peneliti selanjutnya dapatmemperdalam penelitian pada setiap aspek dari sistem among ini lebih lanjut. Disamping itu untuk meningkatkan validitas keterlaksanaan sistem among ini dapatdilakukan dengan mencari berbagai hubungan dengan variabel lain untukmenentukan tingkat keberhasilan sistem among; atau menambah obyek sekolahuntuk melihat pelaksanaan waktu sekarang sehingga lebih komprehensif.
Daftar Pustaka
Gess-Newsome, J, Southerland, SA, Johnston, A, dan Woodbur, S. (2003). Educational
reform, personal practical theories, and dissatisfaction: The anatomy changein college science teaching. American Educatioal Research Journal.. pp. 761-767.JURNAL KEPENDIDIKAN, Volume 39, Nomor 2, November 2009.140
Hariyadi, Ki. (1992). Sistem paguron Tamansiswa, dalam pendidikan dan
pengembangan sumber daya manusia, Peringatan 70 tahun Tamansiswa,Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Dewantara. Ki Hadjar. (1977). Karya Ki Hadjar Dewantara bagian pertama:pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.Iswanti, Sri. (2007). Peningkatan sikap dan kepribadian calon guru melalui sistempendidikan guru berarama. Laporan Penelitian. Yogyakarta: FIP UNY.
Soemarno, Ki. (1992) Perguruan Taman Taruna Nusantara, dalam pendidikan danpengembangan sumber daya manusia, Peringatan 70 tahun Tamansiswa,Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Supriyanto, A. (2008). Sistem among sebagai “Niche” pendidikan. Kompas.2 April
2008. halaman. 12.
Suratman, Ki. (1992). Dasar-dasar konsepsi ajaran Ki Hajar Dewantara, dalamPendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Peringatan 70 tahunTamansiswa, Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Tafsir, A. (2007). Pendidikan tambal sulam. Pikiran Rakyat. 11 Desember 2007.
halaman. 8.
Tauchid, Mochammad. (1972). Cita-cita dan ilmu hidup Taman Siswa. DalamPeringatan 50 tahun Taman Siswa. Yogyakarta: Majelis Luhur PersatuanTamansiswa