• INI GAMBAR NORAH JONES
    Norah Jones adalah seorang musisi jazz yang sudah banyak mendapatkan Grammy Award

Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2011

Humor asyik

Suatu hari emak bilang sama Ucok. "Nak, kalau besok kau jadi orang kaya, emak cuma pingin dibeliin radio, biar emak bisa dengerin berita, lagu-lagu, dll," kata emak.


"Cuma itu mak? Itu mah gampang... kecil...!" kata Ucok.
Kemudian Ucok pergi merantau. Suatu hari Ucok pulang dari kota dan sudah jadi pejabat penting. Dia tidak lupa pesanan emaknya untuk membelikan radio.
"Mak.. mak, Ucok pulang. Ucok sudah jadi pejabat penting di negeri ini. Ini radio Telesonik untuk mak," katanya.
Emak pun menerimanya dengan bangga dan segera menyetel radio itu. Benar saja lagu-lagu langsung terdengar dari radio baru itu. Tak lama siaran berhenti dan penyiarpun mulai menyapa pendengar.
"Pendengar yang setia, Anda masih bersama kami Radio Republik Indonesia ...."
Si emak tersentak langsung bilang, "Kau pembohong nak, kau bilang radio Telesonik ternyata Radio Republik."


****

Saat bermain berdua, Arman dan Joy sedang ngobrol-ngobrol bersama soal tontonan televisi.
"Jangan sering-sering nonton televisi, Joy," ujar Arman kepada temanya.
"Memangnya kenapa?" tanya Joy.
"Karena televisi itu dapat menimbulkan tindak kekerasan..!!!" ujar Arman.
"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya Joy.
"Setiap kali aku memindahkan acara yang sedang ditonton oleh ibuku ke acara lain, ibu selalu memukulku!" kata Arman. (*/Adi)


Guyonan Pagi: Tukang Taruhan dan Paling Sial

Seorang wanita tua masuk ke Bank Indonesia (BI) dengan sekoper penuh uang. Ia membujuk supaya dipertemukan dengan Gubernur BI. "Saya akan buka rekening. Uang yang akan saya simpan sangat-sangat besar," katanya. Semula staf bank ragu, tapi akhirnya membawa wanita tua ini ke ruangan Gubernur BI.


Sang gubernur bertanya, berapa banyak uang yang akan disimpan. "Rp 1 miliar," jawab wanita itu sambil meletakkan koper uang di meja.
Sang gubernur penasaran. "Maaf, ibu saya agak terkejut. Dari mana ibu dapatkan uang tunai sebanyak ini?"
"Saya menang tebak-tebakan!"
"Well, menebak macam apa, kok taruhannya besar sekali?" cecar sang gubernur penasaran.
"Mau contoh? Saya yakin telor burungmu bentuknya kotak!"
"Hah!" ujar Gubernur BI tersentak.
"Ini tebakan paling konyol yang pernah saya dengar. Anda tak mungkin menang dengan tebakan seperti itu," ujarnya yakin.
"Ok, mau taruhan dengan saya?" tantang si wanita tua.
"Siapa takut?" jawab gubernur. "Saya bertaruh Rp 50 juta, karena saya tahu telor saya tidak kotak!"
"Ok, ini menyangkut uang gede. Bisa saya ajak pengacara ke sini besok jam 10 pagi sebagai saksi?" tanya wanita tua.
"Tentu saja," ujar Gubernur BI mantap.
Malam harinya, sang gubernur gelisah. Ia berdiri telanjang di depan cermin. Dia raba-raba telornya, lalu bergerak ke kiri ke kanan berulang-ulang, memastikan telornya tidak kotak. Sampai larut malam, akhirnya dia yakin telornya benar-benar bulat, tidak kotak. Maka ia yakin besok bakal menang taruhan.
Tepat jam 10.00 pagi, wanita tua itu datang dengan pengacara kondang, Sitompul. Setelah memperkenalkan pengacara asal Batak itu, ia mengulang kesepakatan kemarin, "Rp 50 juta untuk tebakan telor burungmu yang kotak?" kata si Nenek. Gubernur BI pun setuju.
Setelahnya, wanita tua itu meminta sang gubernur membuka celana supaya bisa dilihat bentuk telornya. Kontan, Gubernur BI komplain, namun ia tak bisa menolak. Wanita tua ini cuek saja meraih telor si gubernur dan meraba-rabanya.
"Yah, tak apalah. uang Rp. 50 juta tidak kecil. Biar ibu yakin telor saya tidak kotak," ujar gubernur dalam hati. Pada detik yang sama saat wanita tua itu meraba-raba telor sang gubernur, pengacaranya Si Sitompul terlihat lemas sambil membentur-benturkan kepalanya ke dinding.
Gubernur BI bertanya, "Ada apa dengan pengacara itu?" Wanita tua ini menjawab kalem, "Ndak apa-apa. Saya cuman bertaruh dengannya Rp 250 juta, bahwa jam 10.00 pagi ini saya bisa memegang telor Gubernur Bank Indonesia!"


****

Terjadi percakapan antara sebuah raket, pentungan hansip dan anunya pria.
Raket: "Nasib saya sungguh sial. Tiap hari saya dipakai buat mukul-mukul shuttle-cock, kalau kebetulan yang punya kalah, pasti saya dibanting ke lantai. Sakiiit rasanya."
Pentungan hansip: "Kayaknya saya lebih sial deh. Tiap malam saya dibawa keliling, terus kalau ada tiang saya digebuk-gebukin... pusing rasanya."
Anunya pria: "Wah kalian semua belum apa-apa. Saya tiap malam dimasukin ke tungku yang panas dan pengap, serta becek banget. Terus saya disuruh push-up berkali-kali sampai saya muntah-muntah. Aduh, pokoknya sampe jadi lemes..." (*/Adi)
( Suara Karya Online )

Selasa, 15 Februari 2011

Legenda Siti Nurbaya di Tanah Minang

Legenda Siti Nurbaya di Tanah Minang


Makam keramat yang dipercaya milik Siti Nurbaya (Foto: Rus Akbar/okezone)
Jika berbicara Sumatera Barat sepertinya tidak pernah habis dengan cerita rakyat atau urban legend. Sebut saja salah satunya yakni kisah “Siti Nurbaya”.

Langsung saja kerutan dahi kita mengingat peristiwa nikah paksa yang dilakukan seorang pengusaha tamak bernama Datuak Maringgih, terhadap anak Bagindo Sulaiman, Siti Nurbaya.

Padahal Siti telah dijodohkan oleh Syamsul Bahri sejak mereka masih kecil. Namun karena utang terhadap Datuak Maringgih, akhirnya Sulaiman merelakan anak gadisnya untuk dinikahkan pria berusia senja tersebut.

Namun karena cintanya dengan Syamsul Bahri, Siti akhirnya mengakhiri hidupnya dengan memakan lemang beracun. Belakangan Syamsul dan Datuak Maringgih bertemu di medan perang dan akhirnya keduanya meninggal dunia.

Iya sepenggal cerita bersejarah ini menjadi populer sekira 1980-an. Saat itu televisi nasional di Indonesia memfilmkan buku yang ditulis oleh seorang sastrawan bernama Marah Rusli pada 1922 lalu.

Cetakan dari Balai Pusataka ini pun menjadi kisah “Romeo dan Juliet” versi Sumatera Barat yang tak lekang oleh zaman. Bahkan salah satu band ternama di Indonesia membuat lagu berjudul “Siti Nurbaya.”

Legenda ini memang menjadi cerita bersejarah tidak hanya bagi warga yang terkenal Jam Gadang itu, namun cerita ini sudah menjadi dongeng rakyat Indonesia.

Namun apakah Anda tidak penasaran dengan kebenaran legenda itu? Benarkah cerita itu dalam kenyataan atau hanya memang menjadi cerita semata.

Beberapa waktu lalu okezone mencoba penelusuran mengenai cerita rakyat tersebut. Penulis pun mendapat kabar adanya makam “Siti Nurbaya” berada di  Gunung Padang.

Tanpa menunggu waktu, penulis pun memulai perjalanan ke gunung yang berjarak sekira dua kilometer dari pusat kota. Membutuhkan waktu sekira 15 menit dengan mengendarai motor penulis bisa mencapai kaki Gunung Padang.

Penulis tidak perlu mengeluarkan uang untuk mencapai bukit setinggi 400 meter tersebut. Karena memang Pemerintah Provinsi tidak menyediakan loket penjualan karcis untuk memasuki gerbang “dahulu kala” itu.

Kaki penulis pun seakan tak lelah melintasi jalan setapak selebar satu meter itu. Bayangan akan sejarah tak ternilai itu pun melecut penulis untuk terus mencapai makam tersebut.

Setelah berjalan selama 30 menit, penulis pun menemukan pondok peristirahatan. Napas penulis yang mulai “kembang kempis” pun mencoba di normalkan sembari menyelonjorkan kaki yang sudah keras akibat jalan menanjak.

Namun jangan khawatir, perjalan menuju jalan ini mata penulis seakan dimanjakan dengan pemandangan Kota Padang. Indahnya kota Gadang itu dan semilir angin, membuat badan penulis kembali bangkit.

Beberapa menit setelah istirahat, penulis pun kembali melanjutkan perjalanan menuju makam kekasih Syamsul Bahir itu. Jalan setapak yang berliku dan menanjak itu tidak menyurutkan penulis untuk melangkahkan kaki.

Di jalan ini penulis harus ekstra hati-hati. Pasalnya, tangga dibuat oleh pemerintah sudah berlumut dan licin. Sebelum mencapai makam Siti Nurbaya, penulis dihadapkan dengan persimpangan jalan.

Jika penulis mengambil jalan lurus, maka akan mencapai Gunung Padang. Dan kalau mengambil arah kanan akan menemukan makam Siti Nurbaya. Penulis pun mengambil jalan ke arah itu.

Sampai di sini, penulis pun harus menempuh perjalanan menunduk dan turun sejauh 5 meter. Tak berapa lama, penulis akhirnya menemukan sebuah kuburan yang diselimuti kelambu putih.

Makam yang terbuat dari sebagian besar semen tersebut, terlihat indah dengan latar belakang pemandangan turunnya matahari atau sun set. Sayangnya nisan dari semen tersebut tidak terlihat jelas nama jasada yang dimakamkan.

Warga sekitar menyakini makam tersebut sebagai makam Siti Nurbaya. Kuburan yang terlihat sedikit kusam itu tampak diapik dua buah batu. Bahkan dalam kondisi tertentu makam ini banyak didatangi warga.

Syahbudin Abas (43), warga sekitar, belum terlalu yakin bahwa makam tersebut adalah makam istri kesekian Datuak Maringgih. Namun dia mengakui berdasarkan cerita warga sekitar makam itu adalah Siti Nurbaya.(kem)
Rus Akbar - Okezone